SPIRIT OF SAMUDRA PASAI

  • Cronica Pasai
  • The Cosmopolitanism of Samudra Pasai
  • The Weltanschauung & Sufim of Pasai
  • Topography of Pasai
  • Influence of Pasai
  • Images of Pasai
  • [Image: Malikulsaleh's Mausoleum]


    SPECIAL NOTES
    (In Indonesian)

    Tari-tarian Daerah Istimewa Aceh:

    1. Tari Seudati, berasal dari Arab dengan latar belakang agama Islam. Sebuah Tarian dinamis penuh keseimbangan dengan suasana keagamaan. Tarian ini sangat disenangi dan terkenal di daerah Aceh.
    2. Tari Saman Meuseukat dilakukan dalam posisi duduk berbanjar dengan irama dan gerak yang dinamis. Suatu tari dengan syair penuh ajaran kebajikan, terutama ajaran agama Islam.

    Rumah Adat:

    Rumah adat Aceh terbuat dari kayu meranti dan berbentuk panggung. Mempunyai 3 serambi yaitu Seuranmoe Keu (serambi depan), Rumah Inong (serambi tengah) dan Seuramoe Likot (serambi belakang). Selain itu ada pula rumah adat berupa lumbung padi yang dinamakan Krong Pade atau Berandang.

    Pakaian Adat:

    Pakaian adat yang dikenakan pria Aceh adalah baju jas dengan leher tertutup (jas tutup), celaja panjang yang disebut cekak musang dan kain sarung yang disebut pendua. Kopiah yang dipakainya disebut makutup dan sebilah rencon terselip di depan perut.

    Wanitanya memakai baju sampai ke pinggul, celana panjang cekak musang serta kain sarung sampai ke lutut. Perhiasan yang dipakai berupa kalung yang disebut kula, pending atau ikat pinggang, gelang tangan dan gelang kaki. Pakaian ini dipergunakan untuk keperluan upacara pernikahan.

    Senjata tradisional : RENCONG

    Rencong adalah senjata tradisional yang dipakai oleh hampir setiap penduduk Aceh. Wilahan rencong terbuat dari besi dan biasanya bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an.

    Selain rencong, rakyat Aceh mempergunakan pula pedang dengan nama pedang daun tebu, pedang oom ngom dan reudeuh. Pedang daun tebu dipakai oleh panglima perang dan reudeuh oleh para prajurit.

    Ragam Hias : PILIN BERGANDA

    Seni hias Aceh umumnya mamakai bentuk-bentuk ilmu ukur, tumbuh-tumbuhan atau ruang angkasa (kosmos). Ragam Pilin berganda terdiri dari susunan huruf S berdasarkan ilmu ukur. Seni ukir dan seni tenun Aceh menggunakan bentuk tumbuhan.


    Legenda Pahit Saudagar Aceh

    Emas Monas, Teuku Markam, dan Penjara

    BOLEH jadi banyak orang telah lupa bahwa dari 38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan Teuku Markam, salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia. Orang hanya tahu bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Teuku Markamlah saudagar yang dimaksud itu. Itu baru segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini. Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Markam dalam sebuah legenda. Di zaman Orba, karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan dan lain-lain adalah karya lain dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia. Sampai sekarang pun, jalan-jalan itu tetap awet. Teuku Markam pernah memiliki sejumlah kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, Palembang. Ia pun tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor plat baja, besi beton sampai senjata untuk militer. Mengingat peran yang begitu besar dalam percaturan bisnis dan perekonomian Indonesia, Teuku Markam pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan pemerintahan Soekarno. Peran Markam menjadi runtuh seiring dengan berkuasanya pemerintahan Soeharto. Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat PKI. Harta kekayaannya diambil alih begitu saja oleh Rezim Orba. Pernah mencoba bangkit sekeluar dari penjara, tapi tidak sempat bertahan lama. Tahun 1985 ia meninggal dunia. Aktivitas bisnisnya ditekan habis-habisan. Ahli warisnya hidup terlunta-lunta sampai ada yang menderita depresi mental. Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tidak pernah direhabilitir. Anak-anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya upaya dan memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Teuku Markam. Dan kini, ahli waris Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.

    Siapa Markam?

    Teuku Markam turunan uleebalang. Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku Marhaban. Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban meninggal dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat). Teuku Markam tumbuh lalu menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain. Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis. Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia. Adalah Gatot Soebroto pula yang mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Waktu itu, Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha pribumi yang betul-betul mampu menghendel masalah perekonomian Indonesia. Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan mendirikan PT Karkam. Ia sempat bentrok dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam Iskandar Muda) karena "disiriki" oleh orang lain. Akibatnya Teuku Markam ditahan dan baru keluar tahun 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan oleh Sjamaun Gaharu. Keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta dengan membawa PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola pampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Selanjutnya Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya. Bisnis Teuku Markam semakin luas karena ia juga terjun dalam ekspor - impor dengan sejumlah negara. Antara lain mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden. Komitmen Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot habis-habisan oleh Soekarno. Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Sebagaimana kita tahu bahwa proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Peran Teuku Markam menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil berkat bantuan sejumlah dana untuk keperluan KTT itu. Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain seperti Menteri PU Ir Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo dan lain-lain. Pada zaman Soekarno, nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno. Sejarah kemudian berbalik. Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tiada artinya di mata pemerintahan Orba. Ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme. Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia dimasukkan tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba Jln Percetakan Negara. Lalu dipindah lagi ke tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun. Semua terjadi begitu cepat. Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto membuat hidup Teuku Markam menjadi sulit dan prihatin. Ia baru bebas tahun 1974. Ini pun, kabarnya, berkat jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya. Teuku Markam dilepaskan begitu saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orba. "Memang betul, saat itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak- haknya. Tapi waktu itu ia kan tertindas dan teraniaya," kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku Markam. Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966 mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain-lain yang kemudian dikelola PT PP Berdikari yang didirikan Suhardiman untuk dan atas nama pemerintahan RI. Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang terakhir ini adalah tokoh Aceh di Jakarta) termasuk teman-teman Markam. Namun tidak banyak menolong mengembalikan asset PT Karkam. Justru mereka ikut mengelola aset-aset tersebut di bawah bendera PT PP Berdikari. Suhardiman adalah orang pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur tertera Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya PP Berdikari dipimpin Letjen Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin SH. Pada tahun 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974 yang isinya antara lain penegasan status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus "pinjaman" yang nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai penyertaan modal negara di PT PP Berdikari. Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan. Proyek Bank Dunia Sekeluar dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, mau diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan Bireuen - Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT PIM dan lain-lain. Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam "dianggap" angin lalu. Teuku Markam meninggal tahun 1985 akibat komplikasi berbagai penyakit di Jakarta. Sampai akhir hayatnya, pemerintah tidak pernah merehabilitasi namanya. Bahkan sampai sekarang. "Air susu dibalas air tuba," itulah nasib ayah kami, kata Teuku Syauki mengenai prilaku penguasa Orba. Untuk mengembalikan aset PT Karkam yang dikuasai oleh pemerintah, selaku ahli waris, Teuku Syauki Markam menyurati Presiden Gus Dur dan Wapres Megawati Soekarnoputri. Kekayaan Teuku Markam yang diambil alih itu ditaksir bernilai Rp 40 triliun lebih. "Kami menuntut kepada pemerintahan sekarang untuk mengembalikan seluruh aset kekayaan orang tua kami," kata Teuku Syauki Markam. Selain menyurati Presiden Gus Dur, Wapres Megawati, ahli waris Markam juga menemui Jaksa Agung, Ketua Mahkamah Agung, Menteri Negara PBUMN dan sejumlah pejabat terkait lain. "Seumur hidup saya akan berjuang mendapatkan kembali hak kelurga kami yang telah dirampas oleh pemerintahan Orba," tekad Teuku Syauki yang nampak geram atas tingkah polah kekuasaan Orba yang menyebabkan keluarga mereka menderita lahir batin.(fik)

    (Petikan dari: "Serambi Indonesia", 26 Maret 2000)


    Date: Mon, 23 Oct 2000 23:40:50 -0700 (PDT)
    From: Aneuk Rantau <acehnet@yahoo.com>
    Subject: Aceh: Pecah Belah dan Jajah lah
    To: apakabar@radix.net dll

    Aceh: Pecah Belah dan Jajah lah

    Era Soekarno.

    Pada pertengahan 1940-an (ketika Indonesia baru
    mempromaklasikan kemerdekaannya), Soekarno mendukung
    gerilyawan Aceh yang berafiliasi ke Persatuan Oelama
    Seluruh Aceh (POESA) untuk membantai kemlompok
    uleebalang (bangsawan Aceh) yang pro-Belanda. Tragedi
    revolusi sosial ini, yang berpusat di Cumbok, telah
    menimbulkan luka dalam pada keluarga uleebalang Aceh
    yang juga menjadi awal tragedi pecah-belah dan jajah
    lah di Aceh.

    Mengapa Soekarno mendukung peristiwa pembantaian
    uleebalang Aceh tsb???
    Sederhana saja: Soekarno yang baru menjadi presiden
    Indonesia sadar bahwa pemimpin-pemimpin di Aceh punya
    kekuatan besar yang dapat mengancam rencananya
    memlanjutkan era kolonialisme Belanda menjadi
    Neo-Majapahit. Hanya dengan memastikan kehancuran
    salah satu komponen kekuatan rakyat Aceh tsb (keluarga
    uleebalang) maka Soekarno dapat lebih leluasa nantinya
    menjajah Aceh.

    Pada awal 1950, ketika Indonesia baru lepas dari
    Belanda, Soekarno mulai memperlihatkan wajah aslinya.
    Pada masa ini Soekarno berbalik mendukung keluarga
    uleebalang untuk menghancurkan POESA. Soekarno
    memberikan berbagai jabatan di Aceh untuk kelurga
    uleebalang yang dulu pernah dibantainya. Jutaan rupiah
    dana juga diberikan untuk membentuk organisasi saingan
    POESA, baik organisasi ulama maupun kepemudaan. Dengan
    demikian keluarga uleebalang yang tentunya masih
    menyimpan dendam punya kekuatan/peluang lebih besar
    untuk menghancurkan POESA. Apalagi dimasa
    pemberontakan DI/TII Aceh 1953-1962 yang pimpinannya
    sebagian besar berasal dari atau berafiliasi ke POESA.

    Penggunaan uang sebagai metode melemahkan perjuangan
    rakyat Aceh melawan kejaliman rejim Nasionalis-Fasis
    Jakarta terjadi berulang-kali. Misalnya: pada
    pertengahan 1950-an rejim Jakarta membayar mentri
    agama (dari Partai Nahdatul Ulama) untuk membuat
    konferensi yang diikuti oleh ulama NU dan beberapa
    ulama Aceh. Konferensi ini diharapkan akan
    menghasilkan FATWA yeng mengutuk perlawanan rakyat
    Aceh terhadap penguasa zalim di jakarta. Syukur lah
    para ulama NU/Aceh tsb sadar bahwa agama itu ada untuk
    membela kepentingan rakyat dan memutuskan untuk tidak
    menuruti keinginan sesat Soekarno.

    Contoh lain: pada tahun 1957-1959 Soekarno mulai
    mendekati pemimpin pemberontakan DI/TII Aceh yang
    lemah iman-nya dengan menawarkan kekuasaan dan uang
    bila mereka mau menyerah dan membawa anak buahnya
    untuk dipenjara. Beberapa pemimpin yang memang rakus
    kemewahan dunia dan tidak bersih hatinya, seperti
    Hasan Saleh, kemudian memang menyerahkan diri kepada
    penguasa zalim nasionalis-fasis Soekarno. Sementara
    anak buahnya menderita kelaparan setelah dipenjara
    oleh rejim Soekarno, Hasan saleh hidup senang sebagai
    pejabat di Jakarta dan akhirnya memperoleh ratusan
    hektar tanah plus villa mewah di Sukabumi/Puncak.

    (lihat: Sjamsuddin, Nazaruddin, 1985, "The Republican
    Revolt: A Study of the Acehnese Rebellion", Singapore:
    Institute of Southeast Asian Studies.)

    Hancur lah Aceh akibat berbagai pecah belah tsb.
    Uleebalang dan Ulama saling mencurigai, pejabat daerah
    dan rakyat saling membenci. Dan Soekarno pun berhasil
    menguasai Aceh. Pelacuran, perjudian, dan minuman
    haram disebarkan oleh TNI/Polri disegala penjuru Aceh.
    Sekolah-sekolah agama dihancurkan dan diganti dengan
    sekolah sekuler yang mengajarkan berbagai kebohongan
    sejarah. pahlawan menjadi pengkhianat, pengkhianat
    yang gila wanita jadi pahlawan; pemabuk jadi pemimpin,
    sedangkan ulama di penjara; dll. Ulama, uleebalang,
    dan rakyat Aceh akhirnya hanya jadi penonton segala
    kehancuran tsb. Sayang mereka tidak sadar akan taktik
    pecah-belah dan jajah lah yang dijalankan Soekarno.

    Era Orde Baru

    Seperti di Era Soekarno, masa kekuasaan Soeharto juga
    diwarnai oleh proses pecah belah dan jajah lah.
    Orang-orang terpilih di Aceh diberikan pendidikan di
    universitas elit di Jawa (UI, ITB, UGM, dll).
    Diharapkan mereka ini nantinya jdi ELIT baru Aceh yang
    akan meneruskan penjajahan penguasa zalim
    nasionalis-fasis Jakarta. Contoh nyata-nya adalah
    Ibrahim Hasan (IH).

    Sejak tamat dari FEUI, IH memang sudah menjilat kepada
    keluarga Soeharto untuk dapat ikut serta menikmati
    kekayaan alam Aceh untuk dirinya dan keluarganya.
    Bahkan dia ikut mengusulkan agar TNI/Polri digunakan
    untuk merampas tanah rakyat disekitar zone industri
    Lhok Seumawe guna dijadikan kompleks industri. Tanah
    rakyat diambil dengan paksa, dibayar murah atau tidak
    dibayar sama sekali. Bila mereka tidak mau pindah,
    maka nyawa- lah yang melayang, bukan hanya harta-nya.

    Ulama-ulama dibayar oleh Golkar untuk mengajarkan
    kepada rakyat Aceh agar menerima nasib buruknya tsb
    sebagai "takdir Allah". Tipu daya dengan agama ini
    sangat efektif karena rakyat Aceh memang fanatik pada
    agamanya (=Islam). Sayang tanpa pengetahuan, fanatisme
    pada agama menjadi bumerang yang menyambar kepala
    sendiri. Bila ulama tsb sudah tidak bermanfaat bagi
    Golkar atau TNI/Polri, maka dia akan dibunuh dengan
    cara biadab; demikianlah nasib Teungku Ahmad Dewi
    berdakwah disekitar Lhok Seumawe - Aceh Utara. (Lihat:
    Amnesty International, "Shock Therapy" Restoring Order
    in Aceh, 1989-1993).

    Sementara elit daerah sibuk menghamba kepada rejim
    nasionalis-fasis Jakarta dan memeras rakyat, ulama
    terpecah belah menjadi ulama Golkar, ulama PPP, dan
    ulama PDI. Rakyat yang menderita banyak yang lupa
    agama dan sibuk meniru pemimpinnya yang rakus untuk
    berlomba-lomba mengejar kekayaan materi. Pendidikan
    agama dan pengetahuan terabaikan karena sibuk mencari
    harta dengan cara Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
    (KKN). Sayang mereka tidak sadar akan taktik
    pecah-belah dan jajah lah yang dijalankan Soeharto dan
    konconya.

    (Lihat: Tim Kell, 1995, " The Roots of Acehnese
    Rebellion 1989-1992", Cornell Modern Indonesia
    Project, No. 74, Ithaca-New York: Cornell University.)

    Era Reformasi

    Nama-nya boleh Era Reformasi, tapi perilaku rejim
    nasionalis-fasis Jakarta sama saja. Taktik pecah
    -belah dan jajah lah terus dijalankan di Aceh. Banyak
    contoh yang bisa diperlihatkan upaya pecah-belah dan
    jajah lah di Aceh oleh rejim era reformasi (Habibie
    dan Gus Dur)

    - Ulama Aceh dituduh anggota GAM dan pedagang ganja.
    Kasus Teungku Bantaqiah adalah contoh utama bagaimana
    TNI/Polri dengan keji menfitnah ulama sebagai pedagang
    ganja. Namun pengadilan telah membuktikan, dengan ijin
    Allah Yang Maha Tahu, bahwa Teungku Bantaqiah adalah
    seorang ulama yang dibantai secara keji oleh TNI/Polri
    yang menguasai perkebunan/perdagangan ganja di Aceh
    Barat.

    - Cuak-cuak yang pada masa lalu mengabdi ke TNI/Polri
    sekarang ini dibiarkan dibunuhi oleh rakyat yang
    dendam kepada mereka. TNI/Polri juga terus ikut
    membunuhi cuak-cuak yang bersedia menjadi saksi
    kekejaman TNI/Polri pada masa DOM 1989-1998.

    - Ada orang yang mengaku ulama menyatakan bahwa
    NGO-NGO Aceh dibiayai oleh misi-misi Kristen untuk
    menyebarkan agama Kristen di Aceh. Ini contoh nyata
    untuk mencipatkan konflik beragama di Aceh. Untung
    ulama dan pemimpin agama non-Islam di Aceh sadar tipu
    daya licik ini. Dengan demikian konflik anatar umat
    agama berhasil dicegah.

    - Pernah juga diciptakan suasana anti-Cina, sejalan
    dengan kerusuhan Mei 1998. Lagi-lagi gagal, karena
    rakyat Aceh memandang pedagang Cina adalah partner
    usaha yang harus dilindungi. Mereka lah yang
    mendistribusikan bahan-bahan kebutuhan pokok di Aceh.
    Pengusaha Cina juga yang membantu pedagang Aceh
    mengekspor hasil-hasil pertanian/perkebunan Aceh ke
    luar Aceh, bahkan ke luar negri. Yang terjadi bahkan
    sebaliknya: pengusaha Cina Aceh membenci TNI/Polri
    yang kerjanya hanya memeras pengusaha.

    - Suku-suku Gayo, Alas, Singkil, Aneuk Jamee, dll
    dipanas-panasi oleh TNI/Polri dan dinyatakan sebagai
    'bukan orang Aceh'. TNI/polri mencoba mengadu domba
    agar orang Aceh dari suku Gayo, Alas, Singkil, Aneuk
    Jamee, dll membenci orang Aceh dari suku Aceh (yang
    memang mayoritas). Sekali lagi upaya ini gagal, karena
    suku Gayo, Alas, Singkil, Aneuk Jamee, dll selama ini
    telah menjadi korban keganasan TNI/Polri dalam upaya
    mereka memusnahkan rakyat Aceh.

    - Kopassus yang disusupkan di Aceh untuk menembaki
    anggota TNI/Polri etnis Aceh yang dianggap dapat
    membelot dan mendukung kemerdekaan Aceh. Sayang rakyat
    Aceh masih sedikit yang sadar akan taktik keji ini.
    Matinya anggota TNI/Polri etnis Aceh jelas sangat
    merugikan rakyat Aceh, karena mereka ini umumnya
    adalah anggota TNI/Polri yang dalam melaksanakan
    tugasnya menghormati hak-hak rakyat Aceh. Mereka juga
    siap melindungi orang-orang kampungnya dari kekejaman
    pasukan non-organik yang memang dikirim ke Aceh untuk
    membumu hanguskan Aceh. Dilain pihak, matinya anggota
    TNI/Polri etnis Aceh (yang sebenarnya ditembaki oleh
    Kopassus) dijadikan indikator bahwa Aceh memang
    dikuasai oleh GAM, artinya ada konflik bersenjata yang
    sangat besar. Bila opini sesat ini terlah terbentuk,
    akan lebih banyak anggota TNI/Polri dari luar Aceh
    yang ditempatkan di Aceh guna membunuhi rakyat.

    - TNI/Polri telah pula mempersenjatai
    penjahat-penjahat di Aceh agar mereka lebih leluasa
    malakukan kejahatannya. Pencuri-pencuri kayu di Aceh
    Selatan, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat sekarang ini
    menggunakan M16 untuk mempermudah mereka mengawal
    penebangan kayu-kayu di hutang lindung.
    Perampok-perampok binaan TNI/Polri di Aceh Tengah
    terus memeras pengusaha kopi dan mencegah transportasi
    hasil-hasil alam Aceh Tengah ke pelabuhan di Lhok
    Seumawe, Langsa, dan Medan.

    Demikianlah berbagai kekacauan yang dibuat oleh
    TNI/Polri di Aceh. Semuanya itu bertujuan untuk
    mengacaukan situasi Aceh sehingga nantinya Gus Dur
    bersedia menerapkan darurat sipil/militer di Aceh.
    Dengan segala kekacauan tsb TNI/Polri juga menutupi
    kebangkitan kekuatan gerakan sipil di Aceh.

    Mengapa TNI/Polri takut sama gerakan rakyat sipil Aceh
    yang cinta damai dan demokratis??? Karena gerakan
    sipil ini lah yang sebenarnya inti kekuatan perjuangan
    kemerdekaan Aceh. Gerakan sipil yang dimotori NGO,
    pelajar, wanita, ulama (misalnya dari Himpunan Ulama
    Daya Aceh), dan pelajar dayah/pasantren (lebih dikenal
    sebagai Thaliban), adalah gerakan yang merata di
    seluruh Aceh dan mendapat dukungan dari semua rakyat.
    Bahkan gerakan sipil ini juga mendapat dukungan dari
    rakyat Indonesia dan masyarakat Internasional. Bila
    gerakan rakyat ini terus menguat, maka TNI/Polri takut
    mereka akan kehilangan kekuasaan mereka di Aceh. Ini
    artinya hilang milyaran rupiah pendapatan TNI/Polri
    dari pemerasan industri besar di Aceh, perdagangan
    kayu haram, perkebunan/distribusi ganja, dan
    penguasaan kekayaan alam lain seperti kopi, kelapa,
    dan padi.

    Karena itu selama ini TNI/Polri (dan juga kelompok
    nasionalis-fasis di Jakarta) hanya mau berbicara
    dengan GAM. Tujuannya: untuk menutupi kekuatan gerakan
    sipil yang cinta damai dan demokratis, dan menaikkan
    nama GAM sebagai WAKIL RAKYAT Aceh. Padahal GAM kita
    ketahui adalah kelompok bersenjata yang dimata dunia
    Internasional dianggap sebagai 'Islam ekstrimis' yang
    anti-demokrasi. Bila pemerintah berhasil membentuk
    opini bahwa 'GAM yang mewakili rakyat Aceh', dapat
    dipastikan rakyat Aceh akan kembali terasingkan dan
    kemudian dengan mudah dibantai.

    Milisi GALASI

    Ada cara baru pecah-belah dan jajah lah yang akan
    dilaksanakan di Aceh. Cara ini tidak lah baru bagi
    TNI/Polri karena mereka telah melaksanakannnya di
    Timor Timur, Irian, dan Maluku. Sepertinya TNI/Polri
    belum jera juga melaksanakan eksperimen sosial yang
    pada akhirnya hanya merugikan bangsa Indonesia.

    Perlu teman-teman yang cinta damai dan demokrasi
    ketahui, TNI/Polri telah membantuk milisi yang diberi
    nama GALASI. GALASI adalah singkatan dari GAyo, ALas,
    dan SIngkil; yaitu tiga etnis di Aceh yang memang
    memiliki perbedaan etnsi dengan penduduk Aceh di Aceh
    Timur, Aceh Utara, Pidie, Aceh Besar, dan Aceh Barat
    yang etnis-nya lebih seragam.

    Milisi GALASI ini dimotori oleh seorang kaya dari Aceh
    Tengah yang bernama Syukur. Konon pula dia anggota
    DPRD Aceh Tengah dari Golkar. dalam kegiatannya dia
    dibantu seorang preman Aceh Tengah bernama Tagor.
    Lucunya, meskipun milisi ini mengklaim diri sebagai
    milisi Gayo, Alas, dan Singkil, pendiriannya dilakukan
    di Medan dengan tim inti terdiri dari preman Medan
    dibawah binaan Pemuda Pancasila dan Pemuda Karya
    (Sepertinya, PP dan PK boleh berseberangan di Medan,
    tapi kalau sudah soal bagi rezeki mereka mau bekerja
    sama). Anggotanya, selain preman Medan, juga
    penjahat-penjahat di Aceh Tengah, Tenggara, dan Aceh
    Selatan. Sumber dana milisi Galasi ini juga dari
    Yayasan TNI di Medan yang baru-baru ini terlibat
    pembiayaan perambahan hutan oleh transmigran di Taman
    Nasional Gunung Leuser.

    Tugas utama milisi Galasi adalah menteror dan
    menakut-nakuti rakyat Aceh di ketiga daerah tsb. Dalam
    teror-nya mereka mengaku sebagai anggota GAM. Tentunya
    sangat lucu sekali bila seorang yang berlogat Batak
    mengancam rakyat Aceh dengan mengaku diri sebagai
    anggota GAM. Lebih-lebih mereka tidak bisa bicara
    daerah setempat.

    Seperti juga milisi Aitarak/Mahidi/BMP/dll di
    Timor-Timur, milisi Galasi adalah praktek pecah-belah
    dan jajah lah yang dipraktekkan oleh TNI/Polri.
    Mengingat banyak sudah praktek pecah-belah dan jajah
    lah yang dicobakan oleh TNI/Polri di Aceh, sebaiknya
    masyarakat Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh
    Selatan berhati-hati terhadap Milisi Galasi. JANGAN
    BIARKAN MEREKA MENGUASAI DAN MENGHANCURKAN ACEH. Dan
    buat seluruh rakyat Aceh, tetap lah waspada dan sadari
    upaya pecah-belh dan jajah lah oleh TNi/Polri yang
    merupakan hamba rejim nasionalis-fasis jakarta.

    salam
    Aneuk Aceh Cinta Damai

    ----- End of forwarded message from Aneuk Rantau -----

    
    
    Jakarta, KCM, 26 Oktober 2000

    Laporan: Heru Margianto

    Perwakilan Rakyat Aceh Serantau (RAS) yang dipimpin Ketua Umum-nya, Al Chaidar, hari ini tidak jadi diterima perwakilan PBB, Mr Christopher dan digantikan oleh Setyosoemarkoto dari United Nations Development Program (UNDP), dengan alasan Mr Christopher tidak ada di tempat.

    Seperti diberitakan sebelumnya sekitar 100 orang yang menamakan diri Rakyat Aceh Serantau (RAS) siang ini mendatangi Kantor Perwakilan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Jalan Thamrin Jakarta, Kamis (26/10) dan menutup jalur lambat di depan kantor itu.

    Dalam tuntutannya, mereka menyerukan kepada PBB untuk melakukan intervensi ke Aceh. Menurut Tengku Sofyan, Ketua I RAS, Polisi dan TNI masih melakukan tindak kekerasan. "Jeda kemanusiaan yang diberlakukan di Aceh tidak efektif," tegasnya.

    Dalam orasinya, mereka membeberkan penderitaan yang dialami masyarakat Aceh, dan mereka menyerukan solidaritas bagi Orang Aceh yang ada di perantauan. Dengan mengenakan atribut ikat kepala bertuliskan "Rakyat Aceh Serantau", mereka berteriak-teriak: "Aceh Merdeka!"

    Usai pertemuan dengan perwakilan UNDP yang berlangsung selama satu jam, Al Chaidar mengatakan bahwa menurut keterangan Setyosoemarkoto, tim UNDP sudah berangkat ke Aceh, untuk melakukan peninjauan dan Setyosoemarkoto menjanjikan sebuah pertemuan dengan RAS sepulangnya tim UNDP dari Aceh, bulan depan.

    Menurut Al Chaidar pertemuan itu nanti akan membicarakan masalah penyelesaian konflik dan pengungsi Aceh. Al Chaidar sendiri berharap ada pihak ketiga yang ikut serta dalam penyelesaian konflik di Aceh.

    Kepada Setyosoemarkoto, Al Chaidir meminta PBB membentuk Tim Khusus untuk Aceh , seperti Untaet di Timtim. Karena menurutnya masalah Aceh tidak mungkin lagi diselesaikan secara nasional.

    "Jeda kemanusiaan di Aceh cuma cek kosong dan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat dilanggar begitu saja secara sepihak oleh pemerintah Indonesia," ujarnya.

    Dijelaskannya pada tanggal 13 Oktober lalu konflik kembali terjadi di Uleeglee, dan Meurendu, Kabupaten Pidie. Dalam kejadian tersebut 150 pertokoan dibakar. "Kita tidak tahu siapa pelakunya. Tapi yang pasti situasi ini seperti dipelihara oleh pemerintah," jelas Al Chaidar.(zrp)



    Acehnese demand UN interference

    Indonesia-raya.com, October 26, 2000

    At least 200 supporters of Acehnese Migrants association (Rakyat Aceh Serantau) demanded the United Nations to interfere in Aceh due to escalating brutalities occurred in the province that committed mostly by the police and the military. They held a rally outside the UN representative office in Jakarta Thursday where three delegates lodged their petition to the UN staff. Al Chaidar, the chairman, said the UN should visit Aceh to watch “the Acehnese butcheries” that committed by the security forces.


    Demo RAS Tuntut Aceh Merdeka Jakarta , 26-10-2000 inilho.com - Lebih kurang dari 300 pemuda anggota Rakyat Aceh Serantau (RAS) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung PBB di Jalan Thamrin, Jakarta, Kamis (26/10). Mereka mendesak agar PBB datang ke propinsi Serambi Mekah, untuk mengetahui lebih jauh kekejaman yang dilakukan TNI/Polri, dan membantu kemerdekaan propinsi paling ujung utara Indonesia tersebut. Menurut Teuku Al-Chaidar, sampai saat ini aparat TNI/Polri masih melakukan tindakan-tindakan di luar prikemanusiaan, seperti pembunuhan, penculikan dan bentuk-bentuk teror lainnya, kendati Pemerintah Indonesia telah menerapkan jeda kemanusiaan. Karena itu, kata Al-Chaidar, pihak PBB harus segera datang ke bumi Aceh agar dapat melihat sendiri kondisi realitas, bahwa masih ada "pembantaian orang-orang Aceh" yang dilakukan aparat keamanan di sana. Pada kesempatan itu, tiga wakil RAS, Al Chaidar, Tengku Sofyan dan Muzakir diterima Christopher, seorang staf perwakilan PBB. Sementara itu, walaupun para pengunjukrasa menggelar aksinya di jalur lambat, arus kendaraan di kawasan tersebut tampak cukup padat. - iaf

    Aceh di Rantau Dukung GAM (Detik.com, 26.Oktober 2000)
    Fotografer : Dikhy sasra

    Puluhan massa dari Rakyat Aceh Serantau, Kamis (26/10/2000) demo di Kantor PBB, Jl. Thamrin, Jakarta Pusat. Sambil mengibarkan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mereka meneriakkan yel-yel mendukung tuntutan Aceh merdeka. Mereka juga minta PBB mengirimkan misi keamanan ke Serambi Mekah.


    Rakyat Aceh Serantau Minta Dukungan AS

    Jakarta - 26 Oct 00 18:23 WIB (Astaga.com)

    Setelah berunjuk rasa selama satu jam di depan Kedubes AS, kelompok RAS (Rakyat Aceh Serantau) meminta dukungan dari pemerintah AS. Mereka beranggapan, sebagai negara anggota PBB yang memiliki hak veto, AS dipastikan dapat menekan pemerintah Indonesia.

    Demikian dikatakan Ketua RAS, Haidar, usai bertemu dengan perwakilan dari kedubes AS, Kamis siang di Kedubes AS.

    "Kita tahu Amerika mampu menyelesaikan masalah Israel dan Palestina, karena itu kami menginginkan AS juga menyelesaikan masalah Aceh. Jadi, dalam hal ini AS jangan bersikap dobel standar," katanya.

    Haidar yang didampingi dua rekannya, lebih lanjut mengatakan, dalam pertemuan itu mereka menyampaikan persoalan-persoalan di Aceh yang semakin rumit. Dianggap, keberadaan TNI dan Polri di Aceh bukan penyelesaian, melainkan menimbulkan ketakutan yang mengarah ke phobia.

    Dikatakan, terhadap persoalan Aceh, AS melalui Fergin bersedia memberi perhatian. Akan memperhatikan dan menyelesaikan masalah Aceh, meskipun tanpa janji yang pasti. "AS menurut Fergin (perwakilan dari Kedubes AS) prihatin terhadap kondisi Aceh. Selain itu pemerintah Amerika sendiri tidak percaya tentang cara-cara yang diterapkan Gus Dur untuk menyelesaikan masalah Aceh, karena itu mereka menyatakan akan memperhatikan dan menyelesaikannya," kata Haidar.

    Atas ketidakyakinan ini, Haidar dalam negosiasi yang akan datang menginginkan konsulat AS di Aceh.

    Sementara itu di luar Kedubes AS, 200 pengunjuk rasa RAS pelahan-lahan membubarkan diri. Demikian pula aparat kepolisian, sehingga arus lalu lintas pun normal kembali. (feber sianturi)


    Kantor Perwakilan PBB Didemo Perantau Aceh

    Jakarta - 26 Oct 00 12:25 WIB (Astaga.com)

    Sekitar 200-an masyarakat Aceh yang tergabung dalam Rakyat Aceh Perantau, saat ini masih menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Perwakiln PBB, di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

    Aksi yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB ini masih berlangsung tertib. Mereka menuntut beberapa hal, terutama desakan menarik TNI/Polri dari Bumi Serambi Mekah, Aceh. Tuntutan lainnya, segala pembunuhan yang menyengsarakan dan membuat ketakutan warga aceh agar segera dihentikan.

    Aksi ini tidak membuat arus lalu lintas terganggu, meskipun jalur lambat dari arah HI menuju Monas, diblokir oleh massa. Arus lalu lintas di jalur cepat terlihat masih lancar, meskipun tanpa pengawasan intensif pihak kepolisian.

    Sejumlah poster digelar, antara lain bertuliskan: "Aceh = Palestina, korban penindasan, Indonesia = Israel, pembantai kalangan lemah."

    Selain itu sebuah bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berukuran besar tampak dikibar-kibarkan oleh seorang massa pengunjuk rasa. Kapolsek Menteng Ass Supt Paulus W tampak bernegosiasi dengan wakil pengunjuk rasa.(feber sianturi)


    Sabtu, 11/11/2000

    politik & peristiwa Mengaku Didukung Belanda, Inggris, Mesir SIRA:32 Tewas Jelang SIRA-Rakan Reporter: Aulia Andri-Foto: Rayhan Annas Lubis

    detikcom - Jakarta, Bantah membantah soal jumlah korban tewas menjelang Sidang Rakyat Aceh untuk Kedamaian (SIRA-Rakan) belum berhenti. Setelah Polri ‘merevisi’ jumlah korban tewas hanya 14 orang, bukan 50-an, kini SIRA Jakarta ‘meluruskan’ lagi. “Yang benar 32 orang,” ungkap SIRA DKI. Keterangan ini diberikan secara tegas oleh Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) Jakarta Raya untuk membantah pernyataan Polri yang sebelumnya (10/11/2000) menyebut korban tewas menjelang SIRA-Rakan ada 14 orang. Dan dari jumlah itu, sembilan orang adalah anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Keliru jika Kapolri hanya mengatakan 14 orang tewas dalam acara tersebut,” ujar Faisal Saifudin, Konsul SIRA Jakarta Raya kepada wartawan di Kafe Fabor-Brazil Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (11/11/2000). Faisal juga menambahkan ke-32 orang yang tewas itu bukanlah anggota GAM, melainkan anggota masayarakat yang ingin menghadiri acara SIRA-Rakan. Sampai saat ini, dalam hitungan SIRA masih ada 2,5 juta rakyat Aceh yang tertahan oleh TNI/Polri ketika hendak menuju Banda Aceh untuk menghadiri SIRA-Rakan. “Pihak militer dan Polri adalah biang kerok segala penindasan di Aceh. Maka kami menuntut pemerintahan neokolonialisme Indonesia agar menarik seluruh personilnya. Biarkan bangsa Aceh mengurus nasibnya sendiri,” kata Faisal. SIRA Jakarta juga meminta agar PBB dan dunia Internasional mengintervensi penyelesaian kasus Aceh. Mereka diharapkan menghentikan praktek kekerasan yang terjadi di Aceh. Hal ini didukung juga oleh Ketua Rakyat Aceh Serantau (RAS) Al Chaidar. Menurut Chaidar, intervensi asing diperlukan untuk menghentikan aksi kekerasan. “Setelah aksi kekerasan diatasi, maka dilakukan negoisasi dengan mediator pihak ketiga,” ucap Chaidar. Chaidar juga menyatakan bahwa beberapa negara secara verbal sudah menyatakan dukungannya kepada perjuangan Aceh. Ia meyebut tiga negara, yaitu Inggris, Belanda, Mesir. “Duta Besar Belanda bahkan akan membawa masalah Aceh ke Parlemen Belanda,” katanya. (tbs) Keterangan Foto: Suasana SIRA Rakan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada Jumat (10/11/2000)